Kamis, 10 Maret 2011

PDB,PERTUMBUHAN DAN PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI

PERTUMBUHAN DAN PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI
PERTUMBUHAN DAN PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI

A. PERTUMBUHAN EKONOMI

Ø      Arti Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan kondisi utama bagi kelangsungan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan. Karena jumlah penduduk bertambah setiap tahun dengan sendirinya kebutuhan konsumsi bertambah juga setiap tahun, maka dituhkan penambahan pendapatan setiap tahu. Selain itu permintaan, penawaran dan pertumbuhan peduduk juga membutuhkan pertumbuhan kesempatan kerja (sumber pendapatan), sebab jika tidak bergitu maka pertumbuahn ekonomi akan menyababkan kemiskinan.

Ø      Konsep Pendapat Nasional

     
Dua arti dari PN, arti sempit, PN adalah PN. Sedangkan arti luas PN dapat merujuk ke PDB atau ke PNB serta ke PNN (Produk Nasional Neto).
Huungan PDB dan PN sebagai berikut :
PNB = PDB+F
PNN = PNB-D
PN = PNN-Ttl
Ket : F = Pendapatan neto atas faktor luar negeri; D = Penyusutan; Ttl = pajak tak langsung neto. Jika persamaan tersebut digabungkan akan didapat persamaan sbb:
PDB = PN+Ttl+D-F atau PN = PDB+F-D-Ttl
PDB dapat diukur dengan 3 macam pendekatan.
- Pendekatan Penawaran dengan rumus PDB = ∑ NOi.
Ket : i = 1,2,3...9
- Pendekatan Pendapatan dengan rumus PDB = NTB1+NTB2+.......NTB9
Ket : NTB (Nilai Tambah Bruto)
- Pendapatan Pengeluaran dengan rumus PDB = C+I+G+X-M
Ket: Pengeruaran konsumsi rumah tangga (C), Pembentukan modal tetap domestik bruto, termasuk perubahan stok (I) ,Pengeluaran konsumsi pemerintah (G), Ekspor (X), Impor (M).

 Sumber-Sumber Pertumbuhan

Pertumbuhan ekonomi dapat bersumber dari pertumbuahan pada sisi permintaan agregat (AD) dan sisi penawaran agregat (AS)
a. Sisi Permintaan Agregat
Dari sisi AD, pergeseran kurvanya ke kanan yang mencerminkan permintaan di dalam ekonomi bisa terjadi karena PN, terdir dari permintaan masyarakat, perusahaan dan pemerintah, meningkat. Sisi AD di dalam suatu ekonomi digambarkan dalam model ekonomi makro sederhana sbb:
Y= C+I+G+X-M (2.8)
C= cY+Ca (2.9)
I= -ir+Ia (2.10)
G=Ga (2.11)
X= Xa (2.12)
M= mY+Ma (2.13)
Ket :
Persamaan (2.8) menggambarkan keseimbangan AS (total output/PDB) dan AD Persamaan (2.9) besarnya konsumsi rumah tangga yang ditentuakan oleh tingkat pendapatan. c = koefisien konsumsi dengan niali positif antara 0 dan 1 , artinya semakin tinggi pendapatan, semakin tinggi pula pengeluaran. Persamaan (2.10) nilai atau jumlah investasi sangat ditentukan oleh tingakat suku bunga (i) di dalam negeri, semakin mahal biaya investasi, semakin kecil jumlah infestasi. r = koefisien. Persamaan (2.11) pengeluaran pemerintah yang siffatnya otonom, besar kecilnya pengeluaran pemeritah ditentukan oleh faktor antara lain faktor politik di luar modal tersebut. Persamaan (2.12) pertumbuhan indonesia sangat ditentukan faktor-faktor eksternal, seperti permintaan di negara-negara ekspor. (2.13) impor ditentukan oleh tingkat pendapatan di dalam negeri, semakin tinggi pendapatan maka semakin bear permintaan pasar dalam negeri terhadapt impor yang terdiari dari barang dan jasa.

b. Sisi Penawaran Agregat
dari sisi AS, pertumbuhan output bisa disebabkan oleh peningkatan valume dari faktor-faktor produksi yang digunakan, seperti Tenaga kerja (L), modal (K) dan tanah (Tn) serta Energi (E). Juga dipengaruhi oleh peningkatanproduktifitas dari faktor-faktor tersebut. Dirumuskan sbb:
Q= f (X1, X2, X3,.......................Xn)
Dimana Q mewakili volume output dan X1, X2, X3,.......................Xn adalah valume dari aktor-faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut. Tanda positif jika jumlah X meningkat, maka output juga meningkat.

c. Teori-Teori dan Model-Model Pertumbuhan
- Teori dan Model Pertumbuhan Neoklasik
Faktor-faktor yang dianggap sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan outpur adalah jumlah L dan K; juga dapat pula keuangan atau mesin. Penambahan modal jumlah L dan K dengan asumsi produktifitas dari masing-masing faktor produksi tersebut (productivity pasial; PFP) atau produktifitas faktor total (TFP) tetap tidak berubah, menambah output yang dihsilkan. Persentase oautput bisa lebih besar, lebih kecil, atau sama dibandingkan persentase pertumbuhan jumlah dari kedua faktor produksi tersebut.
Model neoklasik hanya melihat sumber pertumbuhannya saja, yakni kontribusi dari penambahan jumlah dari faktor-faktor produksi. Rumus, yakni T di dalam fungsi produksi Cobb Douglas :
Yt = TtKα tLβt
Dimana Yt = tingkat produksi (output) padaperiode t; a dan b = masing-masing produktivitas dari L dan K. Nilai sisa ini dianggap sebagai efek dari pertumbuhan produktivitas dari K dan L secara total antara 10% hingga 50%.


- Teori Modern dan Model Pertumbuhan Endogen
Dalam model ini, faktor-faktor produksi yang krusial tidak hanya L dan K, tapi juga perubahan T (yang terkandung di dalam barang modal atau mesin), E, kewirausahan (Kw), bahan baku (BB) dan material (Mt). Selain itu juga yang berpengaruh lainnya adalah ketersediaan dan kondisi infrastruktur, hukum serta peraturan, stabilitas politik, kebijakan pemerintah, birokrasi dan dasar tukar internasional. Di model modern ini kualitas lebih di penting dari pada kuantitas.
Salah satu asumsi penting dari teori ini adalah keberadaan sifat T yang tidak lagi eksogen, tapi merupakan salah satu faktor produksi yang dinamis. Begitu juga faktor L yang besa berkembang mengikuti perkembangan T dan ilmu pengetahuan.

- Pertumbuhan TFP
Pack dan Page (1994) menyatakan bahwa terdapat dua sumber utama pertumbuhan, yakni pertumbuhna yang bersumber dari peningkatan I (invesment-driven growth) dan pertumbuhan yang didorong oleh peningkatan produktivitas. Pertumbuhan tersebut terjadi akibat meningkatnya pemakiaan faktor produksi, khususnya K (penambahan mesin). Sedang sedang sumber kedua disebabkan oleh meningkatnya produktivitas dari faktor produksi, yang mencerminkan antara lain progres T.
Rumus TFP (Total semua Input) : Ln Yt = Ln Tt +α Ln Kt + β Ln Lt

B. PERTUMBUHAN EKONOMI SELAMA PERIODE ORDE BARU HINGGA ERA MEGAWATI

Melihat kondisi pertumbuhan Indonesia selama pemerintahan Orde Baru (sebelum krisis ekonomi 1997) dapat dikatakan bahwa Indonesia telah mengalami suatu proses pembangunan ekonomi yang spektakuler, paling tidak pada tingkat makro. Pada tahun 1968 PN per kapita masih sangat rendah, hanya sekitar US$60 Laju pertumbuhan 7%-8% selama 1970-an dan turun ke 3%-4% pada taun 1980-an, hal ini disebabkan oleh faktor eksternal seperti merosotnya harga minyak mentah di pasar internasional menjelang pertengahan 1980-an dan resesi ekonomi dunia pada dekade yang sama. Sejak zaman Orde Baru Indonesia menganut sistem ekonomi terbuka, maka goncangan ekstrenal terasa dampaknya terhadap pertumbuhan Indonesia. Perekonomian nasional pada saat itu tergantung pada pamasukan dolar AS dari hasil ekspor komoditi primer yaitu minak dan pertanian.

C. FAKTOR-FAKTOR PENENTU PROSPEK PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

1. Faktor-Faktor Internal
Faktor-faktor tersebut diantaranya, kondisi perbankan realisasi RAPBN 2003, terutama yang menyangkut beban pembayaran bunga utang pemerintah dan pengeluaran stimulus pasca tragedi Bali, hasil pertemuan CGI yang sempat ditunda akibat tragedi Bali, kebijakan ekonomi pemerintah terutama dalam bidang fiskal dan moneter, serta perkembangan ekspor nasional.
Kesiapan dunia usaha Indonesia dalam menghadapi AFTA 2003 juga akan berpengaruh terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional lewat pengaruhnya terhadap prospek perkembangan neraca perdagangan yang berarti saldo transaksi berjalan.
Faktor-faktor non ekonomi : politik san sosial, keamanan (terutaman enyangkut apa yang akan dilakukan pemerintah untuk mencegah tidak terulangnya lagi tragedi Bali), dan hukum (terutama yang berkaitan langsung dengan kegiatan bisnis dan pelaksana otonomi daerah). Perbaikan fundamental ekonomi tidak disertai kstailan politik dan keamanan yang memadai, serta kepastian hukum.

2. Faktor-Faktor Eksternal
Faktornya diantaranyaadalah prospek perekonomian dan perdagangan dunia 2003, kondisi politik global, terutama efek-efek dari perang AS-Irak dan krisis senjata nuklir Korea Utara. Perang AS dan Irak akan berdampak pada efek harga minyak dan penurunan ekspor serta penundaan pengiriman TKI ke wilayah Timur Tengah, sedang efek dari kore Utara, jika terjadi perang besar-besaran jelas akan mengganggu arus perdagangan dan investasi di Asia Tenggara dan Timur khusunya dan dunia pada umumnya.

D. PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI

Istilah Kuznets, perubahan struktur ekonomi disebut transpormasi struktural, artinya rangkaian perubahan yang saling terkait satu dengan yang lainnya dalam komposisi AD, perdagangan luar negeri (ekspor dan impor), AS (produksi dan penggunaan faktor produksi yang diperlukan guna mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (Chenery, 1979)
1. Teori dan Bukti Empiris
Teori perubahan struktural menitikberatkan pembahasan pada mekanisme transpormasi ekonomi yang ditandai oleh LDCs, yang semula lebih bersifat subsistence dan menitikberatkan pada sektor pertanian menuju ke struktur perekonomian yang lebih modern, yang didominasi oleh sektor-sektor nonprimer. Ada 2 teori yang umum digunakan dalam penganalisis perubahan struktur ekonomi.
a. Teori Migrasi (Arthus Lewis),
bahwa wkonomi suatu negara pada dasarnya terbagi menjadi 2 yaitu: Perekonomian Tradisional dipedesaan yang didominasi oleh sektor pertanian Perekonomian Modern diperkotaan dengan industri sebagai sektor utama. Di pedesaan karena pertumbuhan penduduknay tinttgi, maka terjadi kelebihan L dan tingkat hidup masyarakat berada pada kondisi subsistence. Kelebihan L ini ditandai dengan produk marjinalnya yang nilainya nol dan tingkat upah riil (w) yang rendah. Rumus ini juga berlaku bagi perekonomian Modern.
Rumusnya :
LPD = Fd(WP’ YP) (2,25)
LPS = Fs(wp) (2,26)
LPD = LPD = LP (2,27)
Persamaan (2,25), permintaan L (LPD) yang merupakan suatu fungsi negatif dari tingkat upah (wp) (Fd’wp>0) dan positif dari volume produksi pertanian (Yp) (Fd’Yp>0). Persamaan (2,26) , penawaran L (LPS) yang merupakan suatu fungsi positif dari tengkat upah (Fw’wp). Sedang persamaan (2,27) mencermintakn keseimbangan di pasar L, yang menghasilkan tingkat w (W setelah dikoreksi dengan inflasi) dan jumlah L tertentu.

b. Teori Transpormasi struktural (Hollis Chenery)
Teori ini mempokuskan pada perubahan struktur dalam tahapan proses perubahan ekonomi di LDCs, yang mengalami transportasi dari pertanian tradisional ke sektor industri sebagai mesin utama penggerak pertumbuhan ekonomi.
Perubahan struktur ekonomi berbarengan dengan pertumbuhan PDB yang merupakan total pertumbuhan NT dari semua sektor ekonomi dapat dijelaskan dengan industri dan pertanian NTB masing-masing, yakni NTBi dan NTBp yang membentuk PDB :
PDB = NTBi + NTBp
Berdasarkan model ini, kenaikan produksi sektor industri manufaktur dinyatakan sama besarnya dengan jumlah empat faktor berikut :
a. Kenaikan permintaan domestik, yang memuat permintaan langsung untuk produk industri manufaktur plus efek tidak langsung dari kenaikan permintaan domestik untuk produk sektor-sektor lainnya terhadap industri manufaktur.
b. Perluasan ekspor atau efek ttal dari kanaikan jumlah ekspor terhadap produk idustri manufaktur.
c. Substitusi imfor atau efek total dari kenaikan proporsi permintaan di tiap sektor yang dipenuhi lewat produksi domestik terhadap output industri manufaktur.
d. Perubahan teknologi, atau efek total dari perubahan koefisien infut-outfut di dalam perekonomian akibat kenaikan upah dan tingkat pendapatan terhadap sektor industri manufaktur.
Faktor-faktor internal yang membedalakn kelompok LDCs yang mengalami transisi ekonomi yang sangat pesat adalah
a. Kondisi dan struktur awal ekonomi dalam negeri
b. Besarnya pasar dalam negeri
c. Pola distribusi pendapatan
d. Karakteristik dari industrialisasi
e. Keberadaan SDA
f. Kebijakan perdagangan luar negeri
2. Kasus Indonesia
Kalau dilihah dari Orde Baru hingga sekarang, dapat dikatakan bahwa proses perubahan struktur ekonomi Indonesia cukup pesat. Data BPS menunjukan bahwa tahun 1970, NTB dari sektor pertanian menyumbang sekitar 45% terhadap pembentukan PDB, dan pada dekade 1990-an hanya tinggal sekitar 16% hingga 20%. Menurutnya pangsa pertanian dalam permbentukan PDB selama periode tersebut disebabkan oleh laju pertumbuhan output (rata-rata pertahun) di sektor tersebut relatif lebih rendah dibandingkan laju pertumbuhan output disektor-sektor lain.

Referensi
http://uyah-sambelgoreng.blogspot.com/2010/04/pertumbuhan-dan-perubahan-struktur.html
- T. Tulus, Tambunan, 2003, “Perekonomian Indonesia-Beberapa Masalah Penting”, Jakarta : Ghalia Indonesia.

Rabu, 02 Maret 2011

tulisan 1"puisi"


UJUNG MIMPI

Tersesat ku di jalan setapak
Ditemani kuncup bunga malu-malu
Seakan tak berujung…
Sunyi…

Hanya dangungan kumbang
Yang sibuk menari
Menanti mekarnya kuncup bunga malu-malu
Mendongak…

Menatap mega merah yang tampak angkuh
Ia enggan terbenam
Seperti angina lebih lama
Semua makhluk bumi menatap keindahannya
Tak sampai hati ingin melawan
Rasa ingin tahu, ada apa di ujung sana?

Jalan setapak yang mulai gelap…
Karena mega merah angkuh itu
Sudah mengistirahatkan dirinya
Telusuri kerikil-kerikil tajam
Yang seakan marah karena dinginnya malam

Terhirup oleh ku harumnya bunga sedap malam
Terhenyak…
Aku menemukan ujung mimpi ku……..

perekonomian indonesia bab 2

SEJARAH EKONOMI INDONESIA SEJAK ORDE LAMA HINGGA ERA REFORMASI


PERTUMBUHAN DAN PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI

Di dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) dinyatakan secara eksplisit bahwa pembangunan ekonomi merupakan salah satu bagian penting dari pembangunan nasional dengan tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Di Indonesia pembangunan ekonomi yang lebih serius baru dimulai sejak pelaksanaan rencana pembangunan lima tahun pertama (Repelita I) tahun 1969,dan prosesnya berjalan mulus sejak itu hingga krisis ekonomi menerjang Indonesia tahun 1997 / 1998.
Selain pertumbuhan, proses pembangunan ekonomi juga akan membawa dengan sendirinya suatu perubahan mendasar dalam struktur ekonomi.Paling tidak dalam periode jangka panjang, pertumbuhan yang berkesinambungan membawa perubahan struktur ekonumi lewat efek dari sisi permintaan (peningkatan pendapatan masyarakat), dan pada gilirannya perubahan tersebut menjadi faktor pemicu pertumbuhan ekonomi

A.   PERTUMBUHAN EKONOMI
1.     Arti Pertumbuhan ekonomi

Pertumbuhan ekonumi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan kondisi utama atau suatu keharusan bagi kelangsungan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan. Karena jumlah penduduk bertambah setiap tahun yang dengan sendirinya kebutuhan konsumsi sehari-hari juga bertambah setiap tahun, maka dibutuhkan penambahan setiap tahun
Pertumbuhan ekonomi tanpa dibarengi dengan penambahan kesempatan kerja akan mengakibatkan ketimpangan dalam pembagian dari penambahan pendapatan tersebut ( ceteris paribus), yang selanjutnyaakan menciptakan suatu kondisi pertumbuhan ekonomi dengan peningkatan kemiskinan

2.     Konsep Pendapatan Nasional

Ada dua arti dari PN, yakni arti sempit dan arti luas.arti sempit, PN adalah PN. Sedangkan dalam arti  luas, PN dapat merujuk ke PDB, atau merujuk ke PNB, atau ke produk nasional neto (PNN). PDB dapat diukur dengan tiga cara macam pendekatan, yaitu pendekatan produksi, pendekatan pendapatan, dan pendekatan pengeluaran

3.     Sumber-Sumber Pertumbuhan

Pertumbuhan ekonomi bisa bersumber dari pertumbuhan pada sisi permintaan agregat (AD) atau / dan sisi penawara agregat (AS).Permintaan Agregat danPenawaran Agregat did lam posisi ekonomi Makro yang seimbang


·         Teori-Teori Model-Model Pertumbuhan

a.      Teori dan Model Pertumbuhan Neoklasik
Dalam kelompok teori neoklasik, factor-faktor produksi yang dianggap sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan output adalah jumlah L dan K.Penambahan jumlah L dan K, dengan asumsi produktivitas dari masing-masing factor produksi tersebut atau produktivitas factor total tetap tidak berubah, menambah output yang dihasilkan

b.      Teori Moderen dan Model Pertumbuhan

Dalam teori moderen, factor-faktor produksi yang krusial tidak hanya L dan K, tetapi juga perubahan T (yang terkandung di dalam barang modal atau mesin), E, kewirausahaan (Kw), bahan Baku (BB) dn material (Mt),Selain itu, factor-faktor lain yang oleh teori moderen juga dianggap sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi adalah ketersediaan dan kondisi infrastruktur, hokum serta peraturan, stabilitas politik, kebjakan pemerintah birokrasi, dan dasar tukar internasional

c.       Pertumbuhan TFP
Pack dan page (1994) menyatakan bahwa terhadap dua sumber utama pertumbuhan, yakni pertumbuhan yang bersumber dari peningkatan (investment-driven growth) dan pertumbuhan yang didorong oleh peningkatan produktivitas ( productivity-driven growth)

B.     PERTUMBUHAN EKONOMI SELAMA PERIODE ORDE BARU HINGGA ERA MEGAWATI
`
Indonesia sejak pertama Orde Baru menganut system terbuk, goncangan-goncangan eksternal seperti itu sangat terasa dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.Perekonomian nasional pada saat itu sangat tergantung pada pemasukan dolar A dari hasil ekspoet komoditi-komoditi primer, khususnya minyak dan hasil petanian. Tingkat ketergantungan yang tiggi ii membuat perekonomian nasional tidak bisa menghindar dari pengaruh negative dari ketidakpastian harga dari komoditi-komoditi tersebut di pasar internasional.selain factor harga,eksport Indonesia, baik komoditas primer maupun barang-barang industri, juga sangat tergantung pada pertumbuhan ekonomi dunia, terutama di Negara-negara industri maju seperti jepang,AS, dan Eropa Barat, yang merupakan pasar penting bagi ekspor Indonesia

Pengaruh Resesi Dunia Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Dampak negative dari resesi ekonomi dunia tahun 1982 terhadap perekonomian Indonesia terutama terasa dalam laju pertumbuhan ekonomi yang selama 1982-1988 jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.Beberapa Negara lain di asia, seperti, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Thailand juga mengalami hal yang sama.terkecuali di Filipina, merosotnya pertumbuhan ekonomi di Malaysia, Thailand, dan Taiwan lebih lambat di bandingkan di Indonesia karena memang ketiga Negara tersebut basisnya sudah lebih kuat dari pada fundamental ekonomi Indonesia.Sejak pertengahan 1970

Perkembangan PN Kapita Indonesia : 1968-1999 (dalam dolar)

Pada saat krisis ekonomi mencapai klimaksnya, yakni tahun 1998, laju pertumbuhan PDB jatuh deastis hingga 13,1 %. Namun pada tahun 1999 kembali posiif, walaupun sangat kecil , sekitar 0,8% dan tahun 2000 ekonomi indonesi sempat mengalami laju pertumbuhan yang tinggi, hamper mencapai 5%. Memang pada tahun tersebut , pada masa pemerintahan Gus Dur , masyarakat , khususnya pelaku-pelaku bisnis (termasuk investor-investor asing) sempat optimis mengenai prospek perekonomian indoesia.Akan tetapi tahun 2001 laju pertumbuhan ekonomi kembali merosot hingga 3,3% akibat gejolak politik yang sempat memanas kembali, dan pada tahun 2002 pertumbuhan mengalami sedikit perbaikan menjadi 3,66%. Sementara BPS dari publikasi tahunan Statistik Indonesia, memberikan bukti empiris mengenai pertumbuhan dari sejumlah indicator PN dan PN perkapita selama 1998-2001

Laju Pertumbuhan Beberapa Pendapat Agregat dan Per Kapita Atas Dasar
Harga Konstan
Dibandingkan dengan Negara-negara lain di Asia Tenggara, termasuk Negara-negara yang juga mengalami krisis ekonomi, Indonesia adalah Negara terburuk. Berdasarkan laporan tahunan dari Asia Development Bank 2002 ( ADB, 2002), Thailand ternyata mampu mengenjot pertumbuhan sebesar 4,4 % tahun  1999. Sedangkan Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun yang sama hanya 0,9%, walaupun perkiraan pertumbuhan ekonomi Thailand 2002 akan sedikit dibawah pertumbuhan PDB Indonesia
yang paling menarik dari laporan ADB ini adalah bahwa ternyata Vietnam merupakan Negara paling baik pertumbuhan ekonominya di kaewasan tersebut.

PNB Per Kapita Indonesia dan Sejumlah Negara Lainnya di Asia

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia membuat keajaiban Indonesia selama pemerintahan Soeharto menjadi tidak ada artinya lagi. Sektor keuangan/ perbankan yang pada masa Orde Baru berkembang sangat (bahkan terlalu) pesat hancur sama sekali, terutama karena kredit macet antar bank.Dari ssi AS, sector industri manufaktur dan sector konstruksi (bangunan) juga mengalami penurunan produksi yang signifikan. Praktis hamper semua sector ekonomi mengalami pertumbuhan negatife.
Industri manufaktur yang merupakan andalan ekonomi Indonesia sebagai sumber pertumbuhan juga sangat terpukul oleh krisis ekonomi. Yang membuat hancurnya sector ini adalah akibat turunnya kemampuan belanja dari masyarakat dan lesunya kegiatan-kegiatan ekonomi domestic yang membuat menurunnya jumlah AD.Namun dalam nilai rill, semua sector mengalami pertumbuhan negative, kecuali listrik, gas, dan air minum dengan 2,6%. Sedangkam sectktor pertanian mengalami pertumbuhan -0,7%, dan sector industri manufaktur -11,4%.
 Tahun 1999 beberapa sector mengalami pebaikan terutama listrik, gas, dan air minum yang pertumbuhannya mencapai 8% lebih. Tahun 2000, semua sector dapat dikatakan telah mengalami recovery, walaupun belum mencapai tingkat 1995.

C.    FAKTOR-FAKTOR PENENTU PROSPEK PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA
Menurut perkiraan IMF, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia jangka pendek (2003) cukup optimis, sekitar 4,5%.Namun, dibandingkan Negara-negara lainnya di Asia, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak termasuk yang paling tinggi, jadi sebelum terjadinya tragedy Bali pada oktober 2002 yang sempat membuat pesimi para pelaku binis mengenai prospek perekonomian Indonesia pasca tragedy tersebut
Pemerintah Indonesia sendiri merevisi target pertumbuhan ekonomi 2003 dari semula 5% menjadi 4% setelah bom Bali.Namun, kalau pemerinyah melakukan banuak stimulus untuk meningkatkan kegiatan-kegiatan  ekonomi domestic dan eksport, ditambah lagi dengan situasi dalam negeri bisa benar-benar kondusif,aman,dan ada kapasitas hokum/ usaha yang membuat iklim investasi baik, dan lingkungan eksternal mendukung sepenuhnya, maka bukan tidak mungkin target tersebut bisa tercapai. BPS sendiri memprediksi perekonomian Indonesia tahun 2003 bisa tumbuh antara 4%-5%

1.      Faktor-faktor Internal

Tidak dapat dipungkiri bahwa penyebab utama berubahnya krisis rupiah menjadi suatu krisis ekonomi paling besar yang pernah dialami Indonesia tahun 1998 adalah karena buruknya fundamental ekonomi nasional. Sedangkan hambatnya proses pemuliahan ekonomi nasional lebih disebabkan oleh kondisi politik,social, dan keamanan didalam negeri yang kenyataannya sejak reformasi dicetuskan pada Mei 1998 hingga saat ini belum juga pulih sepenuhnya.Bahkan cenderung memburuk menjelang pemilihan presiden 2004
Selain itu, factor-faktor internal ekonomi lainnya yang sangat menentukan prospek perekonomian nasional 2003 antara lain adalah kondisi perbankan, realisasi RAPBN 2003, terutama yang menyangkut beban pembayaran bunga utang pemerintah dan pengeluaran stimulus pasca tragedy Bali, hasil pertemuanCGI  yang sempat ditunda akibat tragedy Bali , kebijakan ekonomi pemerintah terutama dalam bidang fiscal dan moneter, serta perkembangan ekspor nasional.
Faktor-faktor internal nonekonomi yang sangat krusial adalah terutama politik dan social, keamanan, dan hukum.Harus diakui bahwa pemulihan ekonomi Indonesia yang berjalan lambat selama ini ,sejak krisis, karena proses perbaikan fundamental ekonomi tidak disertai dengan kestabilan politik dan keamanan yang memadai,Faktor-faktor nunekonomi ini merupakan aspek-aspek penting di dalam menentukan tingkat resiko dari suatu Negara yang menjadi dasar keputusan bagi pelaku-pelaku bisnis, khususnya investor-investor asing untuk melakukan usaha di Negara tersebut.

2.      Faktor-Faktor Ekternal

Sedangkan Faktor Eksternal yang sangat berpengaruh terhadap[ prospek perekonomian Indoneia adalah prospek perekonomian dan perdagangan dunia 2003.Prospek perekonomian dan perdagangan dunia sangat dipengaruhi oleh prospek perekonomian dari AS,sementara BPS memprediksi perekonomian AS dan Jepang 2003 bisa tumbuh antara 1% hingga 3%
Faktor eksternal lainnya yang juga harus diperhitungkan dalam memprediksi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia 2003 adalah kondisi politik global, terutama efek-efek dari perang AS-Irak dan krisis senjata nuklier Korea Utara.

D.    PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI
 Pembangunan ekonomi jangka panjang dengan pertumbuhan PDB atau PN akan membawa suatu perubahan mendasar dalam struktur ekonomi , dari ekonomi tradisional dengan pertanian sebagai sector utama ke ekonomi moderenyang didominasi oleh sector-sektor nonprimer,khususnya industri manufaktur dengan relasi positif antara pertumbuhn outpi dan pertumbuhan produktivitas yang dinamis sebagai motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi

1.      Teori dan Bukti Empiris

Ada dua teori utama yang umum digunakan dalam penganalisis perubahan struktur ekonomi, yakni dari Arthur Lewis (teori migrasi), dan Hollis Chenery (teori transformasi structural)
Teori Arthus Lewis pada dasarnya membahas proses pembangunan ekonomi yang terjadi di pedesaan dan perkotaan. Dalam torinya, Lewis mengasumsikan bahwa perekonomian suatu Negara pada dasarnya terbagi menjadi dua, yaitu, perekonomian tradisional di pedesaan yang di dominasi oleh sector pertanisn dan perekonomian moderen di perkotaan dengan industri sebagai sector utama.
Sedangkan kerangka pemikiran teori Chenery pada dasarnya sama seperti Lewis.Teori Chenery ,dikenal dengan teori pattern of development.memfokuskan pada perubahan struktur dalam tahapan proses perubahan ekonomi di LDCs, yang mengalami transfomasi dari pertanisn tradisional ke sector industri sebagai mesin untuk penggerak pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan model ini , kenaikan produksi sector industri menufaktur dinyatakan sema besarnya dengan jumlah empat factor berikut
  1. kenaikan permintan domestic, yang memuat permintaan langsung untuk produk manufaktur plus efek tidak langsung dari kenaikanpermintaan domestic untuk produk sector-sektor lainnya terhadap sector industri manufaktur
  2. Perluasan Ekspor (pertumbuhan dan difersifikasi) atau efek total dari kenaikan jumlah ekspor terhadap produk industri manufaktur
  3. Substitusi ompor, atau efek total dari perubahan koefisien input-output sector yang dipenuhi lewat produksi domestic terhadap output industri manufaktur
  4. Perubahan Teknologi, atau efek total dari perubahan koefisien input-output di dalam perekonomian akibat kenaikan upah dan tingkat pendapatan terhadap sector industri menufaktur

v  Kasus Indonesia

Kalau dilihat sejak mulainya pemerintahan Orde Baru hingga sekarang, dapat dikatakan bahwa proses perubahan struktur ekonomi Indonesia cukup pesat.Menurut pangsa pertanian dlam pembentukan PDB selama periode tersebut disebabkan oleh laju pertumbuhan output disektor tersebut relative lebih rendah dibandingkan laju pertumbuhan output di sector-sektor lain.
Selain dengan pendekatan deret waktu, relasi antara tingkat pendapatan perkapita perubahan striktur ekonomi dapat juga di analisis dengan pendekatan lintas Negara.pendekatan terakhir ini lebih tepat digunakan menjawab semua pertanyaan, pertama , apakah proses perubahan struktur ekonomi di Indonesia memang relative cepat dibandingkan di negara-negara lain? Kedua, apakah memng pada suatu korelasi antara tingkat pembangunan dan perubahan struktur ekonomi?
Distribusi PDB Menurut Primer,Sekunder,dan Tersier

·         Primer        : -pertanian
                           -pertambangan & penggalian
·         Sekunder   : -Industri manufaktur
                           -Listrik, gas, & air
                           -Bangunan
·         Tersier       : -Perdagangan,Hotel & restoran
                           -Transportasi& komunikasi
                           -Bank dan Keuangan
                           -Penyewaan & real estate
                           -jasa lainnya

Perubahan struktur ekonomi tersebut yang memperlemah posisi relative dari sector pertanian dan sector pertambangan di dalam perekonomian nasional disebabkan oleh laju pertumbuhan output rata-rata per tahun di kedua sector tersebut relative lebih lambat.















Senin, 21 Februari 2011

Perekonomian Indonesia

B. PERKEMBANGAN SISTEM PEREKONOMIAN PADA UMUMNYA

Dengan semakin berkembangnya jumlah manusia beserta kebutuhannya, semakin disarankan perlunya system perekonomian yang lebih teratur dan terencana.Sistem barter tidak lagi dapat dipertahankan,mengingat hambatan-hambatan yang dihadapi.Mulailah para cendekiawan memikirkan system perekonomian lain yang lebih bermanfat dan dapat digunakan oleh manusia.Hasil-hasil pemikiran para ahli itu adalah

SISTEM PEREKONOMIAN PASAR (LIBERALIS/KAPITALISME
Dicetuskan oleh ahli ekonomi Adam Smith (1759).Dasar ini berasal dari paham kebebasan,dimana mereka menganut paham ‘Laissez fair’,yang menghendaki kebebasan melakukan kegiatan ekonomi,dengan seminim mungkin capur tangan pemerintah
Dasar pemikiran kaum klasik
1. Hukum ‘SAY’. Yang menyatakan bahwa setiap komoditi yang diproduksi, tentulah ada yang membutuhkannya
2. Harga setiap komoditi itu bersifat fleksibel

Secara umumkarakteristiksistem ekonomi liberal/kapitalisme adalah
• Faktor-faktor produksi (Tanah, modal. Tenaga kerja, kewirausahawan) dimiliki dan dikuasai oleh pihak swasta
• Pengambilan keputusan ekonomi bersifat desentralis
• Rangsangan insentif atau umpan balik diberikan dalam bentuk utama materi sebagai sarana memotivasi para pelaku ekonomi

SISTEM PEREKONOMIAN PERENCANAAN ( ETATISME/SOSIALIS)
Pencetus ide mengenai system ekonomi etatisme adalah Krl Max, di ilhami dari penderitan kaum buruh yang terjadi saat itu, sebagai ulah para kaum kapitalis.Sistem ini dapat kita lihat pada Negara yang menganut faham komunis, seperti Uni Sovyet
Sistem sosialis terdiri dari :
Sistem sosialisasi pasar, dengan karakteristik
• Faktor-faktor produksi dimiliki dan dikuasai oleh pihak pemerintah/Negara
• Pengambilan keputusan ekonomi bersifat desentralisasi (dikoordinasi pasar)
• Rangsangan dan insentif diberikan berupa material dan moral
Sistem Sosialis terencana ( komunis). Dengan karakteristik :
• Pengambilan keputusan ekonomi bersifat sentralisasi dengan dikoordinasi secara terencana

SISTEM EKONOMI CAMPURAN
Sistem ekonomi campuran ini adalah merupakan kombinasi ‘logis’. Dari ketidak sempurnaan kedua system ekonomi di atas (liberalisme dan etatisme).Sistem campuran mencoba mengkombinasikan dari kedua system tersebut, diantaranya menyarankan perlunya campur tangan pemerintah secara aktif dalam kebebasan pihak swasta dalam melaksanakan kegiatan ekonominya.Dengan keinginan ini banyak Negara kemudian memilih system ekonomi campuran ini.

C. PERKEMBANGAN SISTEM PEREKONOMIAN INDONESIA

C.1. Perkembangan sistem ekonomi sebelum orde baru
Sejak berdirinya Negara Republik Indonesia, banyak tokoh-tokoh Negara pada saat itu telah merumuskan bentuk perekonomian yang tepat bagi bangsa Indonesia.sebadgai contoh, Bung Hatta sendiri, semasa hidupnya menetuskan ide, bahwa dasar perekonomian Indonesia yang sesuai dengan cita-cita tolong-menolong adalah koperasi
Demikian juga tokoh ekonomi Indonesia saat itu, Sumitro Djojohadikusumo, menegaskan bahwa yang dicita-citakan adalah ekonomi semacam campuran.Namun demikian dalam proses perkembangan berikutnya disepakatilah suatu bentuk ekonomi baru yang dinamakan sebagai Sistem Ekonomi Pancasila yang didalamnya mengandung unsure penting yang disebut Demokrasi Ekonomi
Demokrasi Ekonomi dipilih, karena memiliki cirri-ciri positif yang diantaranya adalah ( Suroso, 1993 ) :
Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asa kekeluargaan
Bumi,air,dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
Warga Negara memiliki kebebasan dalam memilih pekerjaan yang dikehendaki serta mempunyai hak akan pekerjaan dan penghidupan yang layak
Dengan demikian did ala perekonomian Indonesia tidak mengizinkan adanya :
Free fight liberalism
Etatisme
Monopoli
Awal thn 1950-an sampai dengan tahun 1957-an merupakan bukti sejarah adanya corak liberalis dalam perekonomian Indonesia.keadaan pada saat tahun tersebut sebenarnya telah diisi dengan beberapa program dan rencana ekonomi pemerintah. Diantaranya program-program tersebut adalah :
Program Benteng tahun 1950, yang bertujuan membantu pengusaha pribumi
Program / Sumitro Plan tahun 1951
Rencana Lima Tahun Pertama. Tahun 1955-1960
Rencana Delapan Tahun
Namun demikian kesemua program dan rencana tersebut tidak memberikan hasil yang berarti bagi perekonomian Indonesia

Akibat yang ditimbulkan dari system etatisme yang pernah ‘terjadi’ di Indonesia pada periode tersebut dapat dilihat pada bukti-bukti berikut :
Semakin rusaknya sarana-sarana produksi dan komunikasi, yang membawa dampak menurunnya nilai eksport kita
Hutang luar negeri yang justru dipergunakan untuk proyek ‘Mercu Suar’
Defisit Anggaran Negara yang makin besar, dan justru ditutup dengan mencetak uang baru, sehingga inflasi yang tinggi tidak dapat dicegah kembali
Keadaan tersebut masih diperparah dengan laju pertumbuhan penduduk (2,8 %) yang lebih besar dari laju pertumbuhan ekonomi saat itu, sebesar 2,2%


C.2. Perkembangan system ekonomi Indonesia setelah Orde Baru
Setelah melalui masa-masa penuh tantangan pada periode 1945 sampai dengan 1965,semua tokoh Negara yang duduk dalam pemerintahan sebagai wakil rakyat sepakat untuk kembali menepatkan system ekonomi kita pada nilai-nilai yangv telah tersirat dalam UUD 1945.Dengan demikian system demokrasi ekonomi dan system ekonom Pancasila kembali satu-satunya acuan bagi pelaksanaan semua kegiatan ekonomi selanjutnya
Awal Orde Baru diawali dengan masa-masa rehabilitaisi.perbaikan,hamper di seliruh sector kehidupan ,tidak terkecuali sector ekonoi.Rehabilitasi ini terutama ditunjukan untuk :
• Membersihkan segala aspek kehidupan dari sisa-sisa faham dan system perekonomian yang lama (liberal/kapitalis dan etatisme/komunis)
• Menurunkan dan mengendalikan laju inflasi yang saat itu sangat tinggi, yang berakibat terhambatnya proses penyembuhan dan peningkatan kegiatan ekonomi secara umum

D. PARA PELAKU EKONOMI DI INDONESIA

Jika dalam ilmu ekonomi mikro kita mengenal tiga pelaku ekonomi, yaitu :
• Pemilik factor produksi
• Konsumen
• Produsen
Dan jika dalam ilmu ekonomi makro kita mengenal empat pelaku ekonomi :
• Sektor rumah tangga
• Sektor swasta
• Sektor pemerintah, dan
• Sektor luar negeri

Maka dalam perekonomian Indonesia dikenal tiga pelaku ekonomi pokok (sering disebut sebagai agen-agen pemerintah dalam pembangunan ekonomi ) yakni :
Sesuai dengan konsep Trilogi Pembangunan ( Pertumbuhan,Pemerataan, dan kesetabilan Ekonomi )