Kamis, 10 Maret 2011

KEMISKINAN DAN KESENJANGAN

KEMISKINAN DAN KESENJANGAN PENDAPATAN

A.                 PERMASALAHAN POKOK

Ketimpangan besar dalam distribusi pendapatan (yang dimaksud dengan kesenjangan ekonomi) dan tingkat kemiskinan (persentase dari jumlah populasi yang hidup di bawah garis kemiskinan)merupakan dua masalah besar di banyak LDCs.tidak terkecuali Indonesia.Suatu pemerintah bisa jatuh karena amukan rakyat miskin yang sudah tidak tahan lagi menghadapi kemiskinannya
Di Indonesia,pada awal pemerintahan Orde Baru para pembuat kebijaksanaan dan perencana pembangunan ekonomi di Jakarta masih sangat percaya bahwa peruses dan perencanaan pembangunan ekonomi yang pada awalnya terpusatkan hanya di Jawa, khususnya Jakarta dan sekitarnya, dan hanya di sector-sektor tertentu saja, pada akhirnya akan menghasilkan apa yang dimaksud dengan trickle down effects.
Pada awal Orde Baru hingga akhir tahun 1970-an, strategi pembangunan ekonomi yang dianut oleh pemerintahan soeharto lebih beriorentasi kepada pertumbuhan ekonomi yang tinggi.Untuk mencapai tujuan tersebut maka pusat pembangunan ekonomi nasional di mulai di pilau jawa dengan alas an bahwa semua fasilitas-fasilitas yang di butuhkan seperti pelabuhan,jaln raya dan kereta api,telekomunikasi,kompleks industrimgedung-gedung pemerintahan/administrasi.
Sebenarnya,menjelang akhir tahun 1970-an. Pemerintah sudah mulai mennyadari buruknya kualitas pembangunan yang dihasilkan dengan strategi tersebut.Oleh karena itu,sejak pelita III strategi pembangunan mulai diubah tidak lagi hanya terfokus pada pertumbuhan ekonomi,tetapi peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi tujuan utama dari pembangunan.
Sejak itu, perhatian mulai diberikan pada usaha meningkat kesejahteraan masyarakat, misalnya lewat pembangunan industri-industri padat karya.Hingga menjelang terjadinya krisis ekonomi,sudah banyak dilaksanakan program-program pemerintahan yang bertujuan untuk mengurangi jumlah orang miskin dan ketimpangan pendapatan antara kelompok dan kelompok kaya di tanah air.

B.     KONSEP DAN DEFINISI

Besarnya kemiskinan dapat diukur dengan atau tanpa mengacu kepada garis kemiskinan.Konsep yang mengacu kepada garis kemiskinan disebut kemiskinan relative. Sedangkan konsep yang pengukurannya tidak didasarkan pada garis kemiskinan disebut kemiskinan absolute.
Kemiskinan relatifm adalah suatu ukuran mengenai kesenjangan di dalam distribusi pendapatan, yang biasanya dapat didefinisikan di dalam kaitannya dengan tingkat rata-rata dari distribusi yang dimaksud.Kemiskinan absolute adalah derajat dari kemiskinan di bawah, dimana kebutuhan-kebutuhan minimum untuk bertahan hidup tidak dapat terpenuhi.




2. Hubungan antara Pertumbuhan dan Kemiskinan
           
            Dasar teori korelasi antara pertumbuhan pendapatan per kapita dan tingkat kemiskinan tidak berbeda dengan kasus pertumbuhan ekonomi dengan ketimpangan dalam distribusi pendapatan,

E. PENEMU EMPIRIS

1.      Distribusi Pendapatan

Studi-studi mengenai distribusi pendapatan di Indonesia pada umumnya menggunakan data BPS mengenai pengeluaran konsumsi rumah tangga dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (susenas).Data pemngeluaran konsumsi di pakai sebagai suatu pendekatan untuk mengukur distribusi pendapatan masyarakat. Walupun di akui bahwa cara ini sebenarnya mempuanyai suatu kelemahan yang serius : data pengeluaran konsumsi bisa memberikan informasi yang tidak tepat mengenai pendapata, atau tidak mencerminkan tingkat pendapatan yang sebenarnya
Jumlah pengeluaran konsumsi seseorang tidak harus selalu sama dengan jumlah pendapatan yang diterimanya, bisa lebih besar atau lebih kecil. Misalnya, pendapatannya lebih besar tidak selalu berarti pengeluaran konsumsinya juga besar, karena ada tabungan, sedangkan, jika jumlah pendapatannya rendah tidak selalu berarti jumlah konsumsinya juga rendah.
Banyak rumah tangga memakai kredit dank untuk membiayai pengeluaran konsumsi tertentu, misalnya untuk beli rumah dan mobil, dan untuk membiayai sekolah anak atau bahkan untuk liburan. Demikian pula pengertian pendapatan , yang artinya pembayaran yang didapat karena bekerja atau menjual jasa, tidak sama dengan pengertian kekayaan.kekayaan seseorang bisa jauh lebih besar dari pada pendapatannya. Atau , seseorang bisa saja tidak punya pekerjaan tetapi ia sangat kaya karena ada warisan keluaarga.
Banyak pengusaha-pengusaha di Indonesia kalau di ukur dari tingkat pendapatan mereka tidak terlalu berlebihan , tetapi mereka sangat kayak arena perusahaan bdi mana mereka bekerja adalah milik mereka

Secara Teoritis Perubahan Pola Distribusi Pendapatan di Pedesaan dapat disebabkan Oleh factor-faktor berikut ini.

1.      Akibat arus penduduk/ L dari pedesaan ke perkotaan yang selama Orde Baru berlangsung sangat pesat. Sesuai teori A. Lewis (1954), perpindahan orang dari pedesaan ke perkotaan memberi suatu dampak positif terhadap perekonomian di pedesaan : kesempatan kerja produktif , tingkat pruduktivitas dan pendapatan rata-rata masyarakat di pedesaan meningkat. Sedangkan ekonomi perkotaan pada suatu saat akhiynya tidak mampu menampung suplai L yang meningkat terus setiap tahunnya , yang sebagian besar adalah pandatang dari pedesaan, yang akhirnya berakibat pada peningkatan pengangguran, di suatu pihak, dan menurunnya laju pertumbuhan tingkat upah/gaji, di pihak lain

2.struktur pasar dan besarnya distorsi yang berada di pedesaan dengan di perkotaan. Di pedesaan jumlah sector relative lebih kecil dibandingkan di perkotaan. Dan sector-sektor yang ada di pedesaan lebih kecil (dilihat dari jumlah unit usaha di dalam dan output yang dihasilkan oleh sector)di bandingkan sector-sektor yang sama di perkotaan. Perbedaan ini di tambah dengan tingkat pendapatan perkapita di pedesan yang lebih rendah dari pada perkotaan membuat struktur pasar di pedesaan jauh lebih sederhana di perkotaan. Struktur pasar yang sederhana ini membuat distorsi pasar juga relative lebih kecil di pedesaan di bandingkan di perkotaan.


3.Dampak positif dari proses pembangunan ekonomi nasional. Dampak tersebut bisa dalam beragam bentuk, di antaranya :
a.       semakin banyak kegiatan-kegiatan ekonomi di pedesaan di luar sector pertanian, seperti industri manufaktur (kebanyakan dalam sekala kecil, atau industri rumah tangga , perdagangan, perbengkelan dan jasa lainnya, serta bangunan). Diservikasi ekonomi pedesaan ini tentu menambah jumlah kesempatan kerja di pedesaan dan juga menambah pendapatan petani
b tingkat produktivitasdan pendapatan (dalam nilai rill) L di sector pertanian meningkat. Bukan saja akibat arus manusia dari sector tersebut ke sektur0sektor lainnya di perkotaan (seperti di dalam teori A. Lewis )tetapi juga akibat penerapan /pemakaian T baru dan penggunaan input-input yang lebih baik , misalnya pupuk hasil pabrik, dan permintaan pasar domestic dan X terhadap komoditas kompditas pertanian meningkat
c    potensi SDA yang ada di pedesaan semakin baik di manfaatkan oleh penduduk desa (pemakaian semakin optimal)

tiga alas an utama kenapa kesenjangan pendapatan mempunyai suatu efek negative yang langsung terhadap pertumbuhan ekonomi, yakni kesenjangan : (a) mengurangi kesempatan (b)mengurangi inentif peminjaman dana dan (c) menciptakan ekonomi makro yang tidak stabil.

2.      Kemiskinan

Kemiskinan bukan hanya masalah Indonesia, tetapi merupakan masalah dunia. Laporan Bank Dunia menunjukan bahwa tahun 1998 terdapat I,2 miliar orang miskin dari sekitar 5 miliar lebih jumlah p[enduduk di dunia. Sebagiab besar dari juml;ah tersebut terdapat di Asia Selatan (43,5%) yang terkonsentrasi di India, Bangladesh, Nepal, Sri Lanka, dan Pakistan. Afrika subhara merupakan wilatah kedua di dunia yang padat orang miskin (24,3%). Kemiskinan di wilayah ini terutama disebabkan oleh iklim dan kondisi tanah yang tidak mendukung kegiatan pertanian (kekeringan dan gersang), pertikaian yang tidak henti-hentinya antarsuku, manajemen ekonomi makro yang buruk dan pemerintahan yang bobrok. Wilayah ketiga yang terdapat banyak orang miskin adalah Asia Tenggara dan Pasifik (23,2%). Kemiskinan di Asia Tenggara terutama terdapat di Cina, Laos, Indonesia, Vietnam, Thailand, Dan kamboja.Sisanya terdapat di Amerika Latin dan Negara-negara karibia (6,5%), Eropa dan asia Tenggara, serta Timur tengah dan Afrika Utara.
F. KEBIJAKAN ANTI KRMISKINAN

Tiga pilar dari suatu strategi penurunan kemiskinan, yakni : (i) pertumbuhan berkelanjutan yang prokemiskinan; (ii) pengembangan sosial yang terdiri dari pengembangan SDM , moda;l sosial, perbaikan status dari perempuan , dan perlindungan sosial; dan (iii) manajemen ekonomi mkro dan pemerintahan yang bik, yang dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan dari dua pilar pertama. Sebagai tambahan , pendekatan ADB ini juga menekankan pentingnya pemahaman dari relasi antara kemiskinan dan lingkungan.
Untuk mendukung strategi yang tepat dalam memerangi kemiskinan, di perlukn intrvensi-intrvensi pemerintah yang sesuai dengan sarana atau tujuan perantaranya dapat dibagi menurut waktu, yakni jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.Intervensi jang ka pendek adalah terutama pembangunan sector pertanian, usaha kecil, dan ekonomi pedesaan.Hal ini sangat penting melihat kenyataan bahwa di satu pihak, hingga saat ini sebagian besar wilayah Indonesia masih pedesaan dan sebagian besar penduduk Indonesia tinggal dan krja di pedesaan.Demikian juga , sebagian besar penduduk bekerja atau mmpunyai sumber pendapatan di pertanian dan usaha kecil di sector-sektor lain
Intervensi lainnya yang bisa di masukan dalam katagori intervensi jangka pendek adalah manajemen lingkungan dan SDA. Hal ini sangat penting karena hancurnua lingkungan dan habisnya SDA akan dengan sendirinya menjadi factor pengerem proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, yang berarti juga sumber peningkatan kemiskinan. Pembangunan transportasi, Komunikasi, energi dan keuangan, Peningkatan keikutsertaan masyarakat sepenuhnya dalam pembangunan , Dan proteksi sosial

Sedangkan Itervensi Jangka menengah dan panjang yanfg penting adalah sebagai berikut
1.      Pembangunan / penguatan sector usaha
 Peranan akti sector ini sebagai motor utama penggerak ekonomi nasional / sumber pertumbuhan dan penentu daya saing perekonomian nasional rarus di tingkatkan
2.      Kerjasama regional
Hal ini menjadi sangat penting dalam kasus Indonesia sehubungan dngn pelaksanaan otonomi daerah. Kerja sama yang bik dalam segala hal, baik di bidang ekonomi, industri dan perdagangan, maupun noneekonomi seperti pembangunan sosial bisa memperkecil kemungkinan meningkatnya gap antara provinsi-provinsi yang kaya da provinsi-provinsi yang tidak punya (miskin) SDA
3.      Manajemen pengeluaran Pemerintah (APBN) dab Administrasi
Perbaikan manajemen pengeluaran pemerintah untuk kebutuhan public termasuk juga system administrasinya  sangat membentu usaha untuk meningkatkan efektivitas biaya dari pengeluaran pemerintah untuk membiayai penyediaan/pembangunan/penyempurnan fasilitas-fasilitas umum seperti pendidikan, kesehatan, olahraga, dan lain-lain.
4.      Desentralisasi
Tidak hanya desentalisasi fiscal, tetapi juga penentuan strategi/ kebijakan pembangunan ekonomi dan sosial di daerah sangat membantu usaha pengurangan kemiskinan di dalam negeri. Karena hal ini memberi suatu kesempatan besar bagi masyarakat daerah untuk aktif berperan dan dapat menentukan sendiri strategi atau pola pembangunan ekonomi dan sosial di daerah sesuai factor-faktor keunggulan komparatif dan kompetisi yang dimiliki masing-masing daerah
5.      Pendidikan dan kesehatan
Tidak diragukan lagi, pendidikan dan kesehatan yang baik bagi semua anggota masyarakat di suatu Negara merupakan prekondisi bagi keberkasilan dari kebikajakan anti kemiskinan dari pemerintah Negara tersebut. Oleh karena itu , penyediaan pendidikan terutama dasar dan pelayanan kesehatan adalah tanggung jawab mutlak dari pemerintah , di mana pun juga, baik di DCs maupun LDCs. Pihak swasta bisa membantu dalam penyediaan tersebut , tetapi tidak mengambil-alih peranan pemerintah tersebut
6.      Pentediaan Air Bersih dan Pembangunan Perkotaan
Sama seperti penyediaan pendidikn dasar dan kesehatan, penyediaan air bersih dan pembangunan perkotaan terutama pembangunan fasilitas-fasilitas umum/utama, seperti pemikiman/perumahan bagi kelpmpok masyarakat miskin, fasilitas sanitasi dan transportasi, sekolah, kompleks olah raga, dan infrastruktur fisik, seperti jalan raya, waduk listrik, dan sebagainnya, merupakan investensi yang efektif untuk mengurangi tingkat kemiskinan terutama diperkotaan.
7.      Pembagian Tanah Pertanian yang Merata
Pembagian tanah yang merata atau dikenal dengan land reform terutama sangat krusial di LDC karena sebagai suatu sumber penting bagi kehidupan di pedesaan. Lagipula, banyak studi telah membuktikan bahwa pemilik-pemilik kecil leih efisien dalam menggunakan tanah di bandingkan pemilik-pemilik besar, dan system bagi hasil, seperti yang di praktekan secara luas di Indonesia, kurang efiseien di bandingkan pengelolahan oleh pemilik sendiri


refrensi- T. Tulus, Tambunan, 2003, “Perekonomian Indonesia-Beberapa Masalah Penting”, Jakarta : Ghalia Indonesia.

PDB,PERTUMBUHAN DAN PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI

PERTUMBUHAN DAN PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI
PERTUMBUHAN DAN PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI

A. PERTUMBUHAN EKONOMI

Ø      Arti Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan kondisi utama bagi kelangsungan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan. Karena jumlah penduduk bertambah setiap tahun dengan sendirinya kebutuhan konsumsi bertambah juga setiap tahun, maka dituhkan penambahan pendapatan setiap tahu. Selain itu permintaan, penawaran dan pertumbuhan peduduk juga membutuhkan pertumbuhan kesempatan kerja (sumber pendapatan), sebab jika tidak bergitu maka pertumbuahn ekonomi akan menyababkan kemiskinan.

Ø      Konsep Pendapat Nasional

     
Dua arti dari PN, arti sempit, PN adalah PN. Sedangkan arti luas PN dapat merujuk ke PDB atau ke PNB serta ke PNN (Produk Nasional Neto).
Huungan PDB dan PN sebagai berikut :
PNB = PDB+F
PNN = PNB-D
PN = PNN-Ttl
Ket : F = Pendapatan neto atas faktor luar negeri; D = Penyusutan; Ttl = pajak tak langsung neto. Jika persamaan tersebut digabungkan akan didapat persamaan sbb:
PDB = PN+Ttl+D-F atau PN = PDB+F-D-Ttl
PDB dapat diukur dengan 3 macam pendekatan.
- Pendekatan Penawaran dengan rumus PDB = ∑ NOi.
Ket : i = 1,2,3...9
- Pendekatan Pendapatan dengan rumus PDB = NTB1+NTB2+.......NTB9
Ket : NTB (Nilai Tambah Bruto)
- Pendapatan Pengeluaran dengan rumus PDB = C+I+G+X-M
Ket: Pengeruaran konsumsi rumah tangga (C), Pembentukan modal tetap domestik bruto, termasuk perubahan stok (I) ,Pengeluaran konsumsi pemerintah (G), Ekspor (X), Impor (M).

 Sumber-Sumber Pertumbuhan

Pertumbuhan ekonomi dapat bersumber dari pertumbuahan pada sisi permintaan agregat (AD) dan sisi penawaran agregat (AS)
a. Sisi Permintaan Agregat
Dari sisi AD, pergeseran kurvanya ke kanan yang mencerminkan permintaan di dalam ekonomi bisa terjadi karena PN, terdir dari permintaan masyarakat, perusahaan dan pemerintah, meningkat. Sisi AD di dalam suatu ekonomi digambarkan dalam model ekonomi makro sederhana sbb:
Y= C+I+G+X-M (2.8)
C= cY+Ca (2.9)
I= -ir+Ia (2.10)
G=Ga (2.11)
X= Xa (2.12)
M= mY+Ma (2.13)
Ket :
Persamaan (2.8) menggambarkan keseimbangan AS (total output/PDB) dan AD Persamaan (2.9) besarnya konsumsi rumah tangga yang ditentuakan oleh tingkat pendapatan. c = koefisien konsumsi dengan niali positif antara 0 dan 1 , artinya semakin tinggi pendapatan, semakin tinggi pula pengeluaran. Persamaan (2.10) nilai atau jumlah investasi sangat ditentukan oleh tingakat suku bunga (i) di dalam negeri, semakin mahal biaya investasi, semakin kecil jumlah infestasi. r = koefisien. Persamaan (2.11) pengeluaran pemerintah yang siffatnya otonom, besar kecilnya pengeluaran pemeritah ditentukan oleh faktor antara lain faktor politik di luar modal tersebut. Persamaan (2.12) pertumbuhan indonesia sangat ditentukan faktor-faktor eksternal, seperti permintaan di negara-negara ekspor. (2.13) impor ditentukan oleh tingkat pendapatan di dalam negeri, semakin tinggi pendapatan maka semakin bear permintaan pasar dalam negeri terhadapt impor yang terdiari dari barang dan jasa.

b. Sisi Penawaran Agregat
dari sisi AS, pertumbuhan output bisa disebabkan oleh peningkatan valume dari faktor-faktor produksi yang digunakan, seperti Tenaga kerja (L), modal (K) dan tanah (Tn) serta Energi (E). Juga dipengaruhi oleh peningkatanproduktifitas dari faktor-faktor tersebut. Dirumuskan sbb:
Q= f (X1, X2, X3,.......................Xn)
Dimana Q mewakili volume output dan X1, X2, X3,.......................Xn adalah valume dari aktor-faktor produksi yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut. Tanda positif jika jumlah X meningkat, maka output juga meningkat.

c. Teori-Teori dan Model-Model Pertumbuhan
- Teori dan Model Pertumbuhan Neoklasik
Faktor-faktor yang dianggap sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan outpur adalah jumlah L dan K; juga dapat pula keuangan atau mesin. Penambahan modal jumlah L dan K dengan asumsi produktifitas dari masing-masing faktor produksi tersebut (productivity pasial; PFP) atau produktifitas faktor total (TFP) tetap tidak berubah, menambah output yang dihsilkan. Persentase oautput bisa lebih besar, lebih kecil, atau sama dibandingkan persentase pertumbuhan jumlah dari kedua faktor produksi tersebut.
Model neoklasik hanya melihat sumber pertumbuhannya saja, yakni kontribusi dari penambahan jumlah dari faktor-faktor produksi. Rumus, yakni T di dalam fungsi produksi Cobb Douglas :
Yt = TtKα tLβt
Dimana Yt = tingkat produksi (output) padaperiode t; a dan b = masing-masing produktivitas dari L dan K. Nilai sisa ini dianggap sebagai efek dari pertumbuhan produktivitas dari K dan L secara total antara 10% hingga 50%.


- Teori Modern dan Model Pertumbuhan Endogen
Dalam model ini, faktor-faktor produksi yang krusial tidak hanya L dan K, tapi juga perubahan T (yang terkandung di dalam barang modal atau mesin), E, kewirausahan (Kw), bahan baku (BB) dan material (Mt). Selain itu juga yang berpengaruh lainnya adalah ketersediaan dan kondisi infrastruktur, hukum serta peraturan, stabilitas politik, kebijakan pemerintah, birokrasi dan dasar tukar internasional. Di model modern ini kualitas lebih di penting dari pada kuantitas.
Salah satu asumsi penting dari teori ini adalah keberadaan sifat T yang tidak lagi eksogen, tapi merupakan salah satu faktor produksi yang dinamis. Begitu juga faktor L yang besa berkembang mengikuti perkembangan T dan ilmu pengetahuan.

- Pertumbuhan TFP
Pack dan Page (1994) menyatakan bahwa terdapat dua sumber utama pertumbuhan, yakni pertumbuhna yang bersumber dari peningkatan I (invesment-driven growth) dan pertumbuhan yang didorong oleh peningkatan produktivitas. Pertumbuhan tersebut terjadi akibat meningkatnya pemakiaan faktor produksi, khususnya K (penambahan mesin). Sedang sedang sumber kedua disebabkan oleh meningkatnya produktivitas dari faktor produksi, yang mencerminkan antara lain progres T.
Rumus TFP (Total semua Input) : Ln Yt = Ln Tt +α Ln Kt + β Ln Lt

B. PERTUMBUHAN EKONOMI SELAMA PERIODE ORDE BARU HINGGA ERA MEGAWATI

Melihat kondisi pertumbuhan Indonesia selama pemerintahan Orde Baru (sebelum krisis ekonomi 1997) dapat dikatakan bahwa Indonesia telah mengalami suatu proses pembangunan ekonomi yang spektakuler, paling tidak pada tingkat makro. Pada tahun 1968 PN per kapita masih sangat rendah, hanya sekitar US$60 Laju pertumbuhan 7%-8% selama 1970-an dan turun ke 3%-4% pada taun 1980-an, hal ini disebabkan oleh faktor eksternal seperti merosotnya harga minyak mentah di pasar internasional menjelang pertengahan 1980-an dan resesi ekonomi dunia pada dekade yang sama. Sejak zaman Orde Baru Indonesia menganut sistem ekonomi terbuka, maka goncangan ekstrenal terasa dampaknya terhadap pertumbuhan Indonesia. Perekonomian nasional pada saat itu tergantung pada pamasukan dolar AS dari hasil ekspor komoditi primer yaitu minak dan pertanian.

C. FAKTOR-FAKTOR PENENTU PROSPEK PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

1. Faktor-Faktor Internal
Faktor-faktor tersebut diantaranya, kondisi perbankan realisasi RAPBN 2003, terutama yang menyangkut beban pembayaran bunga utang pemerintah dan pengeluaran stimulus pasca tragedi Bali, hasil pertemuan CGI yang sempat ditunda akibat tragedi Bali, kebijakan ekonomi pemerintah terutama dalam bidang fiskal dan moneter, serta perkembangan ekspor nasional.
Kesiapan dunia usaha Indonesia dalam menghadapi AFTA 2003 juga akan berpengaruh terhadap prospek pertumbuhan ekonomi nasional lewat pengaruhnya terhadap prospek perkembangan neraca perdagangan yang berarti saldo transaksi berjalan.
Faktor-faktor non ekonomi : politik san sosial, keamanan (terutaman enyangkut apa yang akan dilakukan pemerintah untuk mencegah tidak terulangnya lagi tragedi Bali), dan hukum (terutama yang berkaitan langsung dengan kegiatan bisnis dan pelaksana otonomi daerah). Perbaikan fundamental ekonomi tidak disertai kstailan politik dan keamanan yang memadai, serta kepastian hukum.

2. Faktor-Faktor Eksternal
Faktornya diantaranyaadalah prospek perekonomian dan perdagangan dunia 2003, kondisi politik global, terutama efek-efek dari perang AS-Irak dan krisis senjata nuklir Korea Utara. Perang AS dan Irak akan berdampak pada efek harga minyak dan penurunan ekspor serta penundaan pengiriman TKI ke wilayah Timur Tengah, sedang efek dari kore Utara, jika terjadi perang besar-besaran jelas akan mengganggu arus perdagangan dan investasi di Asia Tenggara dan Timur khusunya dan dunia pada umumnya.

D. PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI

Istilah Kuznets, perubahan struktur ekonomi disebut transpormasi struktural, artinya rangkaian perubahan yang saling terkait satu dengan yang lainnya dalam komposisi AD, perdagangan luar negeri (ekspor dan impor), AS (produksi dan penggunaan faktor produksi yang diperlukan guna mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (Chenery, 1979)
1. Teori dan Bukti Empiris
Teori perubahan struktural menitikberatkan pembahasan pada mekanisme transpormasi ekonomi yang ditandai oleh LDCs, yang semula lebih bersifat subsistence dan menitikberatkan pada sektor pertanian menuju ke struktur perekonomian yang lebih modern, yang didominasi oleh sektor-sektor nonprimer. Ada 2 teori yang umum digunakan dalam penganalisis perubahan struktur ekonomi.
a. Teori Migrasi (Arthus Lewis),
bahwa wkonomi suatu negara pada dasarnya terbagi menjadi 2 yaitu: Perekonomian Tradisional dipedesaan yang didominasi oleh sektor pertanian Perekonomian Modern diperkotaan dengan industri sebagai sektor utama. Di pedesaan karena pertumbuhan penduduknay tinttgi, maka terjadi kelebihan L dan tingkat hidup masyarakat berada pada kondisi subsistence. Kelebihan L ini ditandai dengan produk marjinalnya yang nilainya nol dan tingkat upah riil (w) yang rendah. Rumus ini juga berlaku bagi perekonomian Modern.
Rumusnya :
LPD = Fd(WP’ YP) (2,25)
LPS = Fs(wp) (2,26)
LPD = LPD = LP (2,27)
Persamaan (2,25), permintaan L (LPD) yang merupakan suatu fungsi negatif dari tingkat upah (wp) (Fd’wp>0) dan positif dari volume produksi pertanian (Yp) (Fd’Yp>0). Persamaan (2,26) , penawaran L (LPS) yang merupakan suatu fungsi positif dari tengkat upah (Fw’wp). Sedang persamaan (2,27) mencermintakn keseimbangan di pasar L, yang menghasilkan tingkat w (W setelah dikoreksi dengan inflasi) dan jumlah L tertentu.

b. Teori Transpormasi struktural (Hollis Chenery)
Teori ini mempokuskan pada perubahan struktur dalam tahapan proses perubahan ekonomi di LDCs, yang mengalami transportasi dari pertanian tradisional ke sektor industri sebagai mesin utama penggerak pertumbuhan ekonomi.
Perubahan struktur ekonomi berbarengan dengan pertumbuhan PDB yang merupakan total pertumbuhan NT dari semua sektor ekonomi dapat dijelaskan dengan industri dan pertanian NTB masing-masing, yakni NTBi dan NTBp yang membentuk PDB :
PDB = NTBi + NTBp
Berdasarkan model ini, kenaikan produksi sektor industri manufaktur dinyatakan sama besarnya dengan jumlah empat faktor berikut :
a. Kenaikan permintaan domestik, yang memuat permintaan langsung untuk produk industri manufaktur plus efek tidak langsung dari kenaikan permintaan domestik untuk produk sektor-sektor lainnya terhadap industri manufaktur.
b. Perluasan ekspor atau efek ttal dari kanaikan jumlah ekspor terhadap produk idustri manufaktur.
c. Substitusi imfor atau efek total dari kenaikan proporsi permintaan di tiap sektor yang dipenuhi lewat produksi domestik terhadap output industri manufaktur.
d. Perubahan teknologi, atau efek total dari perubahan koefisien infut-outfut di dalam perekonomian akibat kenaikan upah dan tingkat pendapatan terhadap sektor industri manufaktur.
Faktor-faktor internal yang membedalakn kelompok LDCs yang mengalami transisi ekonomi yang sangat pesat adalah
a. Kondisi dan struktur awal ekonomi dalam negeri
b. Besarnya pasar dalam negeri
c. Pola distribusi pendapatan
d. Karakteristik dari industrialisasi
e. Keberadaan SDA
f. Kebijakan perdagangan luar negeri
2. Kasus Indonesia
Kalau dilihah dari Orde Baru hingga sekarang, dapat dikatakan bahwa proses perubahan struktur ekonomi Indonesia cukup pesat. Data BPS menunjukan bahwa tahun 1970, NTB dari sektor pertanian menyumbang sekitar 45% terhadap pembentukan PDB, dan pada dekade 1990-an hanya tinggal sekitar 16% hingga 20%. Menurutnya pangsa pertanian dalam permbentukan PDB selama periode tersebut disebabkan oleh laju pertumbuhan output (rata-rata pertahun) di sektor tersebut relatif lebih rendah dibandingkan laju pertumbuhan output disektor-sektor lain.

Referensi
http://uyah-sambelgoreng.blogspot.com/2010/04/pertumbuhan-dan-perubahan-struktur.html
- T. Tulus, Tambunan, 2003, “Perekonomian Indonesia-Beberapa Masalah Penting”, Jakarta : Ghalia Indonesia.

Rabu, 02 Maret 2011

tulisan 1"puisi"


UJUNG MIMPI

Tersesat ku di jalan setapak
Ditemani kuncup bunga malu-malu
Seakan tak berujung…
Sunyi…

Hanya dangungan kumbang
Yang sibuk menari
Menanti mekarnya kuncup bunga malu-malu
Mendongak…

Menatap mega merah yang tampak angkuh
Ia enggan terbenam
Seperti angina lebih lama
Semua makhluk bumi menatap keindahannya
Tak sampai hati ingin melawan
Rasa ingin tahu, ada apa di ujung sana?

Jalan setapak yang mulai gelap…
Karena mega merah angkuh itu
Sudah mengistirahatkan dirinya
Telusuri kerikil-kerikil tajam
Yang seakan marah karena dinginnya malam

Terhirup oleh ku harumnya bunga sedap malam
Terhenyak…
Aku menemukan ujung mimpi ku……..

perekonomian indonesia bab 2

SEJARAH EKONOMI INDONESIA SEJAK ORDE LAMA HINGGA ERA REFORMASI


PERTUMBUHAN DAN PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI

Di dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) dinyatakan secara eksplisit bahwa pembangunan ekonomi merupakan salah satu bagian penting dari pembangunan nasional dengan tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Di Indonesia pembangunan ekonomi yang lebih serius baru dimulai sejak pelaksanaan rencana pembangunan lima tahun pertama (Repelita I) tahun 1969,dan prosesnya berjalan mulus sejak itu hingga krisis ekonomi menerjang Indonesia tahun 1997 / 1998.
Selain pertumbuhan, proses pembangunan ekonomi juga akan membawa dengan sendirinya suatu perubahan mendasar dalam struktur ekonomi.Paling tidak dalam periode jangka panjang, pertumbuhan yang berkesinambungan membawa perubahan struktur ekonumi lewat efek dari sisi permintaan (peningkatan pendapatan masyarakat), dan pada gilirannya perubahan tersebut menjadi faktor pemicu pertumbuhan ekonomi

A.   PERTUMBUHAN EKONOMI
1.     Arti Pertumbuhan ekonomi

Pertumbuhan ekonumi yang tinggi dan berkelanjutan merupakan kondisi utama atau suatu keharusan bagi kelangsungan pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan. Karena jumlah penduduk bertambah setiap tahun yang dengan sendirinya kebutuhan konsumsi sehari-hari juga bertambah setiap tahun, maka dibutuhkan penambahan setiap tahun
Pertumbuhan ekonomi tanpa dibarengi dengan penambahan kesempatan kerja akan mengakibatkan ketimpangan dalam pembagian dari penambahan pendapatan tersebut ( ceteris paribus), yang selanjutnyaakan menciptakan suatu kondisi pertumbuhan ekonomi dengan peningkatan kemiskinan

2.     Konsep Pendapatan Nasional

Ada dua arti dari PN, yakni arti sempit dan arti luas.arti sempit, PN adalah PN. Sedangkan dalam arti  luas, PN dapat merujuk ke PDB, atau merujuk ke PNB, atau ke produk nasional neto (PNN). PDB dapat diukur dengan tiga cara macam pendekatan, yaitu pendekatan produksi, pendekatan pendapatan, dan pendekatan pengeluaran

3.     Sumber-Sumber Pertumbuhan

Pertumbuhan ekonomi bisa bersumber dari pertumbuhan pada sisi permintaan agregat (AD) atau / dan sisi penawara agregat (AS).Permintaan Agregat danPenawaran Agregat did lam posisi ekonomi Makro yang seimbang


·         Teori-Teori Model-Model Pertumbuhan

a.      Teori dan Model Pertumbuhan Neoklasik
Dalam kelompok teori neoklasik, factor-faktor produksi yang dianggap sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan output adalah jumlah L dan K.Penambahan jumlah L dan K, dengan asumsi produktivitas dari masing-masing factor produksi tersebut atau produktivitas factor total tetap tidak berubah, menambah output yang dihasilkan

b.      Teori Moderen dan Model Pertumbuhan

Dalam teori moderen, factor-faktor produksi yang krusial tidak hanya L dan K, tetapi juga perubahan T (yang terkandung di dalam barang modal atau mesin), E, kewirausahaan (Kw), bahan Baku (BB) dn material (Mt),Selain itu, factor-faktor lain yang oleh teori moderen juga dianggap sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi adalah ketersediaan dan kondisi infrastruktur, hokum serta peraturan, stabilitas politik, kebjakan pemerintah birokrasi, dan dasar tukar internasional

c.       Pertumbuhan TFP
Pack dan page (1994) menyatakan bahwa terhadap dua sumber utama pertumbuhan, yakni pertumbuhan yang bersumber dari peningkatan (investment-driven growth) dan pertumbuhan yang didorong oleh peningkatan produktivitas ( productivity-driven growth)

B.     PERTUMBUHAN EKONOMI SELAMA PERIODE ORDE BARU HINGGA ERA MEGAWATI
`
Indonesia sejak pertama Orde Baru menganut system terbuk, goncangan-goncangan eksternal seperti itu sangat terasa dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.Perekonomian nasional pada saat itu sangat tergantung pada pemasukan dolar A dari hasil ekspoet komoditi-komoditi primer, khususnya minyak dan hasil petanian. Tingkat ketergantungan yang tiggi ii membuat perekonomian nasional tidak bisa menghindar dari pengaruh negative dari ketidakpastian harga dari komoditi-komoditi tersebut di pasar internasional.selain factor harga,eksport Indonesia, baik komoditas primer maupun barang-barang industri, juga sangat tergantung pada pertumbuhan ekonomi dunia, terutama di Negara-negara industri maju seperti jepang,AS, dan Eropa Barat, yang merupakan pasar penting bagi ekspor Indonesia

Pengaruh Resesi Dunia Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Dampak negative dari resesi ekonomi dunia tahun 1982 terhadap perekonomian Indonesia terutama terasa dalam laju pertumbuhan ekonomi yang selama 1982-1988 jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.Beberapa Negara lain di asia, seperti, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Thailand juga mengalami hal yang sama.terkecuali di Filipina, merosotnya pertumbuhan ekonomi di Malaysia, Thailand, dan Taiwan lebih lambat di bandingkan di Indonesia karena memang ketiga Negara tersebut basisnya sudah lebih kuat dari pada fundamental ekonomi Indonesia.Sejak pertengahan 1970

Perkembangan PN Kapita Indonesia : 1968-1999 (dalam dolar)

Pada saat krisis ekonomi mencapai klimaksnya, yakni tahun 1998, laju pertumbuhan PDB jatuh deastis hingga 13,1 %. Namun pada tahun 1999 kembali posiif, walaupun sangat kecil , sekitar 0,8% dan tahun 2000 ekonomi indonesi sempat mengalami laju pertumbuhan yang tinggi, hamper mencapai 5%. Memang pada tahun tersebut , pada masa pemerintahan Gus Dur , masyarakat , khususnya pelaku-pelaku bisnis (termasuk investor-investor asing) sempat optimis mengenai prospek perekonomian indoesia.Akan tetapi tahun 2001 laju pertumbuhan ekonomi kembali merosot hingga 3,3% akibat gejolak politik yang sempat memanas kembali, dan pada tahun 2002 pertumbuhan mengalami sedikit perbaikan menjadi 3,66%. Sementara BPS dari publikasi tahunan Statistik Indonesia, memberikan bukti empiris mengenai pertumbuhan dari sejumlah indicator PN dan PN perkapita selama 1998-2001

Laju Pertumbuhan Beberapa Pendapat Agregat dan Per Kapita Atas Dasar
Harga Konstan
Dibandingkan dengan Negara-negara lain di Asia Tenggara, termasuk Negara-negara yang juga mengalami krisis ekonomi, Indonesia adalah Negara terburuk. Berdasarkan laporan tahunan dari Asia Development Bank 2002 ( ADB, 2002), Thailand ternyata mampu mengenjot pertumbuhan sebesar 4,4 % tahun  1999. Sedangkan Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun yang sama hanya 0,9%, walaupun perkiraan pertumbuhan ekonomi Thailand 2002 akan sedikit dibawah pertumbuhan PDB Indonesia
yang paling menarik dari laporan ADB ini adalah bahwa ternyata Vietnam merupakan Negara paling baik pertumbuhan ekonominya di kaewasan tersebut.

PNB Per Kapita Indonesia dan Sejumlah Negara Lainnya di Asia

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia membuat keajaiban Indonesia selama pemerintahan Soeharto menjadi tidak ada artinya lagi. Sektor keuangan/ perbankan yang pada masa Orde Baru berkembang sangat (bahkan terlalu) pesat hancur sama sekali, terutama karena kredit macet antar bank.Dari ssi AS, sector industri manufaktur dan sector konstruksi (bangunan) juga mengalami penurunan produksi yang signifikan. Praktis hamper semua sector ekonomi mengalami pertumbuhan negatife.
Industri manufaktur yang merupakan andalan ekonomi Indonesia sebagai sumber pertumbuhan juga sangat terpukul oleh krisis ekonomi. Yang membuat hancurnya sector ini adalah akibat turunnya kemampuan belanja dari masyarakat dan lesunya kegiatan-kegiatan ekonomi domestic yang membuat menurunnya jumlah AD.Namun dalam nilai rill, semua sector mengalami pertumbuhan negative, kecuali listrik, gas, dan air minum dengan 2,6%. Sedangkam sectktor pertanian mengalami pertumbuhan -0,7%, dan sector industri manufaktur -11,4%.
 Tahun 1999 beberapa sector mengalami pebaikan terutama listrik, gas, dan air minum yang pertumbuhannya mencapai 8% lebih. Tahun 2000, semua sector dapat dikatakan telah mengalami recovery, walaupun belum mencapai tingkat 1995.

C.    FAKTOR-FAKTOR PENENTU PROSPEK PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA
Menurut perkiraan IMF, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia jangka pendek (2003) cukup optimis, sekitar 4,5%.Namun, dibandingkan Negara-negara lainnya di Asia, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak termasuk yang paling tinggi, jadi sebelum terjadinya tragedy Bali pada oktober 2002 yang sempat membuat pesimi para pelaku binis mengenai prospek perekonomian Indonesia pasca tragedy tersebut
Pemerintah Indonesia sendiri merevisi target pertumbuhan ekonomi 2003 dari semula 5% menjadi 4% setelah bom Bali.Namun, kalau pemerinyah melakukan banuak stimulus untuk meningkatkan kegiatan-kegiatan  ekonomi domestic dan eksport, ditambah lagi dengan situasi dalam negeri bisa benar-benar kondusif,aman,dan ada kapasitas hokum/ usaha yang membuat iklim investasi baik, dan lingkungan eksternal mendukung sepenuhnya, maka bukan tidak mungkin target tersebut bisa tercapai. BPS sendiri memprediksi perekonomian Indonesia tahun 2003 bisa tumbuh antara 4%-5%

1.      Faktor-faktor Internal

Tidak dapat dipungkiri bahwa penyebab utama berubahnya krisis rupiah menjadi suatu krisis ekonomi paling besar yang pernah dialami Indonesia tahun 1998 adalah karena buruknya fundamental ekonomi nasional. Sedangkan hambatnya proses pemuliahan ekonomi nasional lebih disebabkan oleh kondisi politik,social, dan keamanan didalam negeri yang kenyataannya sejak reformasi dicetuskan pada Mei 1998 hingga saat ini belum juga pulih sepenuhnya.Bahkan cenderung memburuk menjelang pemilihan presiden 2004
Selain itu, factor-faktor internal ekonomi lainnya yang sangat menentukan prospek perekonomian nasional 2003 antara lain adalah kondisi perbankan, realisasi RAPBN 2003, terutama yang menyangkut beban pembayaran bunga utang pemerintah dan pengeluaran stimulus pasca tragedy Bali, hasil pertemuanCGI  yang sempat ditunda akibat tragedy Bali , kebijakan ekonomi pemerintah terutama dalam bidang fiscal dan moneter, serta perkembangan ekspor nasional.
Faktor-faktor internal nonekonomi yang sangat krusial adalah terutama politik dan social, keamanan, dan hukum.Harus diakui bahwa pemulihan ekonomi Indonesia yang berjalan lambat selama ini ,sejak krisis, karena proses perbaikan fundamental ekonomi tidak disertai dengan kestabilan politik dan keamanan yang memadai,Faktor-faktor nunekonomi ini merupakan aspek-aspek penting di dalam menentukan tingkat resiko dari suatu Negara yang menjadi dasar keputusan bagi pelaku-pelaku bisnis, khususnya investor-investor asing untuk melakukan usaha di Negara tersebut.

2.      Faktor-Faktor Ekternal

Sedangkan Faktor Eksternal yang sangat berpengaruh terhadap[ prospek perekonomian Indoneia adalah prospek perekonomian dan perdagangan dunia 2003.Prospek perekonomian dan perdagangan dunia sangat dipengaruhi oleh prospek perekonomian dari AS,sementara BPS memprediksi perekonomian AS dan Jepang 2003 bisa tumbuh antara 1% hingga 3%
Faktor eksternal lainnya yang juga harus diperhitungkan dalam memprediksi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia 2003 adalah kondisi politik global, terutama efek-efek dari perang AS-Irak dan krisis senjata nuklier Korea Utara.

D.    PERUBAHAN STRUKTUR EKONOMI
 Pembangunan ekonomi jangka panjang dengan pertumbuhan PDB atau PN akan membawa suatu perubahan mendasar dalam struktur ekonomi , dari ekonomi tradisional dengan pertanian sebagai sector utama ke ekonomi moderenyang didominasi oleh sector-sektor nonprimer,khususnya industri manufaktur dengan relasi positif antara pertumbuhn outpi dan pertumbuhan produktivitas yang dinamis sebagai motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi

1.      Teori dan Bukti Empiris

Ada dua teori utama yang umum digunakan dalam penganalisis perubahan struktur ekonomi, yakni dari Arthur Lewis (teori migrasi), dan Hollis Chenery (teori transformasi structural)
Teori Arthus Lewis pada dasarnya membahas proses pembangunan ekonomi yang terjadi di pedesaan dan perkotaan. Dalam torinya, Lewis mengasumsikan bahwa perekonomian suatu Negara pada dasarnya terbagi menjadi dua, yaitu, perekonomian tradisional di pedesaan yang di dominasi oleh sector pertanisn dan perekonomian moderen di perkotaan dengan industri sebagai sector utama.
Sedangkan kerangka pemikiran teori Chenery pada dasarnya sama seperti Lewis.Teori Chenery ,dikenal dengan teori pattern of development.memfokuskan pada perubahan struktur dalam tahapan proses perubahan ekonomi di LDCs, yang mengalami transfomasi dari pertanisn tradisional ke sector industri sebagai mesin untuk penggerak pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan model ini , kenaikan produksi sector industri menufaktur dinyatakan sema besarnya dengan jumlah empat factor berikut
  1. kenaikan permintan domestic, yang memuat permintaan langsung untuk produk manufaktur plus efek tidak langsung dari kenaikanpermintaan domestic untuk produk sector-sektor lainnya terhadap sector industri manufaktur
  2. Perluasan Ekspor (pertumbuhan dan difersifikasi) atau efek total dari kenaikan jumlah ekspor terhadap produk industri manufaktur
  3. Substitusi ompor, atau efek total dari perubahan koefisien input-output sector yang dipenuhi lewat produksi domestic terhadap output industri manufaktur
  4. Perubahan Teknologi, atau efek total dari perubahan koefisien input-output di dalam perekonomian akibat kenaikan upah dan tingkat pendapatan terhadap sector industri menufaktur

v  Kasus Indonesia

Kalau dilihat sejak mulainya pemerintahan Orde Baru hingga sekarang, dapat dikatakan bahwa proses perubahan struktur ekonomi Indonesia cukup pesat.Menurut pangsa pertanian dlam pembentukan PDB selama periode tersebut disebabkan oleh laju pertumbuhan output disektor tersebut relative lebih rendah dibandingkan laju pertumbuhan output di sector-sektor lain.
Selain dengan pendekatan deret waktu, relasi antara tingkat pendapatan perkapita perubahan striktur ekonomi dapat juga di analisis dengan pendekatan lintas Negara.pendekatan terakhir ini lebih tepat digunakan menjawab semua pertanyaan, pertama , apakah proses perubahan struktur ekonomi di Indonesia memang relative cepat dibandingkan di negara-negara lain? Kedua, apakah memng pada suatu korelasi antara tingkat pembangunan dan perubahan struktur ekonomi?
Distribusi PDB Menurut Primer,Sekunder,dan Tersier

·         Primer        : -pertanian
                           -pertambangan & penggalian
·         Sekunder   : -Industri manufaktur
                           -Listrik, gas, & air
                           -Bangunan
·         Tersier       : -Perdagangan,Hotel & restoran
                           -Transportasi& komunikasi
                           -Bank dan Keuangan
                           -Penyewaan & real estate
                           -jasa lainnya

Perubahan struktur ekonomi tersebut yang memperlemah posisi relative dari sector pertanian dan sector pertambangan di dalam perekonomian nasional disebabkan oleh laju pertumbuhan output rata-rata per tahun di kedua sector tersebut relative lebih lambat.